Khazanah Islam

34 Adab Menuntut Ilmu Agar Memperoleh Ilmu Yang Bermanfaat

21. Hendaknya memperhatikan tiga perkara dalam ilmu, yaitu Al Qur’an, As Sunnah dan Tauhid.

22. Hendaknya ia tidak banyak berdehem atau banyak bertingkah, dan tidak bersiwak di majlis ilmu.

Demikian juga hendaknya ia tidak banyak tertawa, tidak bercakap-cakap dengan kawannya, tidak merendahkan saudaranya atau mengolok-olok mereka, karena mereka adalah saudaranya.

23. Berusaha tidak mengantuk.

24. Tidak banyak meminta pengulangan kepada guru.

25. Buah dari ilmu adalah mengamalkannya dan menyampaikannya.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mengamalkan ilmu mereka dan menyerupakan mereka seperti keledai yang memikul kitab-kitab, namun tidak paham isinya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (Terj. QS. Al Jumu’ah: 5)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْئَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلاَ

“Tidaklah bergeser dua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan. Tentang ilmunya, untuk apa ia berbuat, tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia keluarkan, serta tentang badannya untuk apa ia letihkan?” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7300)

26. Hendaknya ia berusaha mengikat dhawabith (kaidah dalam satu masalah) dan kaidah kulliyyah (yang menyeluruh), memilah hadits yang shahih dengan yang dha’if dan mencatat masalah-masalah furu’.

27. Jika seorang penuntut ilmu hendak pindah ke guru yang lain, hendaknya ia beritahukan, dan bahwa berpindahnya itu bukan maksudnya karena merasa tidak butuh kepadanya, dan hal ini dilakukan dengan penuh adab dan hormat.

28. Hendaknya ia menjauhi berbicara dengan guru menggunakan kalimat yang menunjukkan kesombongan, seperti “menurut saya” atau “saya lebih menguatkannya,” dsb.

29. Jika seorang guru salah ucap tanpa disadari, maka silahkan meluruskan dengan penuh hormat.

30. Hendaknya ketika ia berdahak atau bersin tidak mengeraskan suaranya. Dan untuk bersin, hendaknya ia tutup mukanya dengan bajunya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Abu Dawud dan Hakim dengan sanad shahih).

31. Hendaknya ia tidak mendesak seorang guru ketika guru sedang lelah.

32. Tidak patut bagi penuntut ilmu memutuskan penjelasan guru ketika menerangkan pelajaran.

33. Abu Hanifah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya saya mendapatkan ilmu dengan memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.

Setiap kali aku paham dan diberitahukan fiqh dan hikmah, aku berkata “Al Hamdulillah”, maka bertambahlah ilmuku.”

Demikianlah sepatutnya seorang penuntut ilmu, ia menyibukkan diri dengan bersyukur baik dengan lisan, hati, anggota badan maupun keadaan.

Dia yakin bahwa pemahaman, ilmu dan taufiq yang didapatkannya adalah berasal dari Allah Ta’ala.

Ia pun meminta hidayah-Nya dengan berdoa dan bertadharru’ (merendahkan diri) kepada-Nya, karena Allah Ta’ala akan menunjuki orang yang meminta hidayah kepadanya.

34. Demikian juga hendaknya ia membaca buku-buku tentang adab menuntut ilmu, seperti :

Tadzkiratus saami’ wal mutakallim fii aadabil ‘aalim wal muta’allim karya Badruddin bin Jama’ah,

Ta’limul Muta’allim ,

Adabul ‘aalim wal muta’allim oleh Imam Nawawi yaitu pada kitab Al Majmu’nya,

Hilyah Thalibil ‘Ilmi oleh Syaikh Bakar Abu Zaid dan bagian awal kitab Jami’ul ilmi wa fadhluh oleh Ibnu ‘Abdil Barr.

Previous page 1 2 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker