34 Adab Menuntut Ilmu Agar Memperoleh Ilmu Yang Bermanfaat

Imsakiyah Ramadhan | 34 Adab Menuntut Ilmu Agar Memperoleh Ilmu Yang Bermanfaat

Dalam menuntut ilmu ada beberapa adab yang perlu diperhatikan, namun sebelumnya perlu kiranya dketahui tentang pentingnya adab tersebut.
Burhanuddin Az Zarnuuji berkata, “Orang-orang yang hadir di majlis ilmu itu banyak, namun mengapa yang keluar (berhasil) hanya sedikit? Hal itu, karena kebanyakan mereka tidak mengerjakan adab penuntut ilmu.”
Ibnul Mubarak berkata, “Aku belajar ilmu selama dua puluh tahun, dan aku belajar adab ilmu selama tiga puluh tahun.”
Ibnul Kharrath Al Isybiliy menyebutkan dari sebagian ahli ilmu, ia berkata, “Janganlah meremehkan adab, karena barang siapa yang meremehkan adab, maka ia akan meremehkan sunnah-sunnah, dan barang siapa yang meremehkan sunnah-sunnah, maka ia akan meremehkan yang wajib-wajib.”
Adab Penuntut Ilmu
Berikut ini beberapa adab penuntut ilmu yang perlu diperhatikan:
- Jujur dan ikhlas.
Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah: 119)
Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niat, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai yang ia niatkan.” (HR. Bukhari)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberitahukan, bahwa orang yang pertama kali menjadi bahan bakar neraka adalah tiga orang, yang salah satunya adalah orang yang belajar agama dan mengajarkannya agar disebut sebagai orang ‘alim, dan orang yang membaca Al Qur’an agar disebut qari’ (sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim), nas’alullahas salaamah wal ‘aafiyah.
Oleh karena itu, hendaknya seorang penuntut ilmu meniatkan di hatinya untuk menggapai ridha Allah dan mendapatkan kampung akhirat, menyingkirkan kebodohan dari dirinya serta menghilangkan kebodohan yang menimpa orang lain.
Dia pun hendaknya berniat untuk menegakkan agama Islam dan menjaganya, karena Islam terjaga dengan ilmu.
Sikap zuhud dan takwa pun tidak mungkin dicapai dengan kebodohan.
Imam Abu Muhammad ibnu Hazm rahimahullah berkata,
“Jika engkau hadir ke majlis ilmu, maka hendaknya kehadiranmu untuk menambah ilmu dan mendapatkan pahala, bukan sebagai orang yang sudah merasa cukup dengan ilmunya, ingin mencari kekurangan yang bisa disebarluaskan atau keanehannya yang bisa engkau cacatkan. Ini hanyalah tindakan yang dilakukan oleh orang-orang rendah yang tidak beruntung selamanya dalam menuntut ilmu.
Tetapi jika engkau hadir dengan niat yang benar, maka engkau akan memperoleh kebaikan dalam keadaan bagaimana pun.
Sebaliknya, jika niatmu buruk, maka duduk di rumah lebih menenangkan badanmu, memuliakan akhlakmu, dan menyelamatkan agamamu.” (Al Akhlaq was Siyar 1/92)
- Mencari ilmu yang bermanfaat
Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَ مِنْ دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ وَ مِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَؤُلاَءِ الْأَرْبَعِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, dari doa yang tidak didengar, dari jiwa yang tidak puas dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung dari empat hal itu kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i dari Ibnu ‘Amr, dan diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim dari Abu Hurairah, dan Nasa’i dari Anas, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1297).
Seorang penyair berkata,
مَا أَكْثَـرُ الْعِلْـمَ وَمَــا أَوْسَعَــهُ
مَنْ ذَا الَّـذِيْ يَقْــدِرُ أَنْ يَجْمَعَـهُ
إِنْ كُنْـتَ لاَ بـُدَّ لَـهُ طَـالِــبًا
مُحَاوِلاً، فَالْتَمِــسْ أَنْفَعَــــــــهُ
Alangkah banyak ilmu itu dan alangkah luasnya
Siapakah yang dapat mengumpulkannya
Jika kamu harus mencari dan berusaha kepadanya,
Maka carilah yang bermanfaat darinya.
- Menyiapkan alat tulisnya.
Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya di antara penyebab terhalangnya ilmu adalah menghadiri majlis ilmu tanpa menyalinnya.”
Ada yang berkata, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” Ada pula yang berkata, “Ilmu itu binatang buruan, dan talinya adalah mencatat.”
Ada atsar (riwayat) dari Thawus, bahwa ketika ia menghadiri (majlis) Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, maka ia selalu menulis, sampai suatu ketika ia tidak memperoleh sesuatu untuk menulis, maka ia menulis di tangannya.”
- Fokus kepada ilmu tersebut.
Ada seorang yang berkata,
الْعِلْمُ لاَ يُعْطِيْكَ بَعْضَهُ حَتَّى تُعْطِيَهُ كُلَّكَ
“Ilmu tidak akan memberikan sebagiannya kepadamu sampai kamu memberikan bagianmu semua kepadanya.”
- Membersihkan jiwa dari akhlak yang buruk.
Ilmu yang bermanfaat adalah cahaya dari Allah yang diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
Oleh karena itu, hendaknya seorang penuntut ilmu menjauhi dirinya dari hasad, riya’, ‘ujub, dan semua akhlak tercela. Imam Syafi’i berkata,
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ
فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِى
فَإِنَّ الْحِفْظَ فَضْلٌ مِنَ اللهِ
وَفَضْلُ اللهِ لاَ يُعْطَى لِعَاصِى
Aku pernah mengeluh kepada Waki’ tentang buruknya hapalanku,
Maka ia menunjukiku agar meninggalkan maksiat
Karena hapalan adalah karunia Allah
Dan karunia Allah itu tidak diberikan kepada pelaku maksiat.

One Comment