Khazanah Islam

34 Adab Menuntut Ilmu Agar Memperoleh Ilmu Yang Bermanfaat

  1. Manfaatkanlah usia muda untuk menuntut ilmu, meskipun usia tua bukan penghalang menuntut ilmu.

Hal itu, karena belajar di masa kecil seperti mengukir di atas batu, sedangkan belajar di masa tua seperti mengukir di atas air, karena disibukkan oleh banyak urusan. Meskipun begitu, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berkuasa menjadikan seseorang kuat hapalan walaupun usianya telah lanjut.

  1. Hendaknya penuntut ilmu hadir dalam keadaan yang rapi dan baik.

Oleh karena itu, hendaknya ia tidak datang dalam keadaan menahan buang air, lapar, pikiran sedang risau dan sebagainya.

  1. Bekerja tidaklah menghalangi untuk belajar.

Para sahabat semuanya bekerja, namun setelah mereka bekerja, maka sisa waktunya mereka gunakan untuk belajar agama.

Abu Sa’id berkata, “Kami berperang dan membiarkan seorang atau dua orang untuk mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu keduanya menceritakan kepada kami sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami juga menceritakan; kami katakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda.” (HR. Ibnu ‘Asakir).

  1. Bertahap dalam menuntut ilmu.

Hendaknya seorang penuntut ilmu mendahulukan yang terpenting di antara sekian ilmu, seperti ilmu tentang ‘Aqidah dan ibadah, serta yang dibutuhkan pada saat itu.

  1. Harus sabar.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Yahya bin Katsir, ia berkata, “Ilmu tidaklah diperoleh dengan jiwa-raga yang santai.”

Imam Syafi’i pernah berkata,

أَخِيْ لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنَبِّئُكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاجْتِهَادٍ وَدِرْهَمٍ وَصُحْبَةِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

“Saudaraku, kamu tidak akan mencapai ilmu kecuali dengan enam perkara, aku akan terangkan dengan jelas, yaitu: kecerdasan, semangat, sungguh-sungguh, ada dirham (biaya), didampingi guru, dan waktu yang lama.”

11. Demikian juga hendaknya seorang murid, tidak memilih jenis ilmu menurut dirinya sendiri. Bahkan hendaknya ia serahkan masalah itu kepada guru. Karena guru memiliki pengalaman tentang hal itu.

12. Duduk yang sopan. Oleh karena itu, hendaknya ia tidak bersandar. Demikian juga hendaknya ia tidak duduk dengan duduk orang yang sombong, yaitu dengan menaruh kaki yang satu di atas kaki yang lain.

13. Hendaknya ia bertanya dengan baik, dan lebih baik lagi jika ia awali dengan mendoakannya, seperti mengucapan “Semoga Allah mengampuni engkau” dan menggunakan kata-kata yang lembut terhadapnya.

Imam Malik berkata, “Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf pernah mendebat Ibnu Abbas sehingga banyak ilmu yang terhalang baginya.”

Adh Dhahhak berkata, “Aku tidaklah mengambil ilmu ini dari para ulama kecuali dengan bersikap lembut kepada mereka.”

  1. Tidak malu dalam bertanya.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (Terj. QS. An Nahl: 43)

Aisyah berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, dimana rasa malu tidak menghalangi mereka belajar agama.”

Oleh karena itu, hendaknya seorang penuntut ilmu tidak malu bertanya, karena ilmu itu perbendaharaan, sedangkan kuncinya adalah bertanya.

Meskipun begitu, hendaknya ia tidak banyak bertanya kecuali jika dibutuhkan, tentunya dengan sikap sopan dan beradab.

15. Hadir di majlis sebelum guru datang.

16. Tidak memotong pembicaraannya.

17. Hendaknya ia memuliakan guru tanpa berlebihan. Hal itu, karena ia membawa kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

18. Diam memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru.

Sufyan Ats Tsauriy rahimahullah pernah berkata:

اَوَّلُ الْعِلْمِ اْلإِسْتِمَاعُ ثُمَّ الْإِنْصَاتُ ثُمَّ الْحِفْظُ ثُمَّ الْعَمَلُ ثُمَّ النَّشْرُ

“Ilmu diawali dengan mendengarkan, lalu memperhatikan, kemudian menghapalnya, lalu mengamalkan kemudian menyebarkan.”

  1. Memurajaah ilmu yang ia peroleh dari guru.

Mu’adz bin Jabal berkata, “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah rasa takut, mencarinya adalah ibadah, mengingat-ingatnya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad, mengajarkan kepada orang yang tidak tahu adalah sedekah dan memberikan kepada orang yang berhak adalah sebuah pendekatan diri kepada Allah.”

  1. Hendaknya waktunya lama.

Imam Ahmad berkata, “(Menuntut ilmu) dari tempat tinta sampai ke tempat kubur.”

Previous page 1 2 3Next page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker